Senin, 27 Agustus 2012

Anak Coklat

          Kotak biru terhempas ke lantai begitu Alfi menarik ransel lamanya dari atas lemari. Gadis itu mendesah saat melihat isi kotak berhamburan di lantai. Awalnya Alfi hanya ingin mengambil ransel lamanya untuk dicuci dan disumbangkan. Tapi ternyata di atas ransel itu ada kotak seukuran tempat sepatu.
             "Apa nih?" gumam Alfi sambil mengambil satu persatu kertas yang berceceran. Kertas-kertas itu terlihat lapuk karena tinta pulpen yang sudah memudar. Goresan acak-acakan khas anak kecil membuat senyum Alfi tekembang. Menariknya kembali ke masa-masa paling lucu dalam hidupnya. mengajar pramuka di SD Perwira bangsa.Kejadiannya sudah lama, tiga tahun yang lalu. Hal yang paling melekat di kepala Alfi adalah ketika Jambore berlangsung. Alfi menjadi pembimbing di kelompok melati.

             "Kakak. Ini masang tendanya bener kan? masa kata Nayla ini salah." Rajuk Ratu mengadu. Menarik-narik tepian baju  Alfi yang berbahan katun drill coklat khas seragam pramuka.
              "Masangnya sih udah bener, tapi ini perlu di kencengin lagi."Alfi menarik tali yang terkait dengan pasak. Megencangkan tenda agar tak mudah rubuh.
            Alfi suka pramuka. Kegiatan yang menurutnya bisa menambah ilmu dalam berbagai bidang. Baginya, Pramuka adalah awal dari segala kegiatan. PMR, jurnalisme, kepemimpinan, baris-berbaris, sampai bertahan hidup di tengah hutan, semuanya ada didalam pramuka. Dan lewat pramukalah ia bisa semakin dekat dengan cita-citanya. yaitu menjadi guru. Bukan guru yang sebetulnya sih, tapi paling tidak ia bisa membagikan ilmu yang ia dapat kepada anak-anak SD yang ia bimbing.
            
Matahari sudah condong ke barat ketika salah Alfi mengabsen anggota kelompok melati. satu-persatu anak mengangkat tangan saat nama mereka dipanggil oleh suara pembimbing yang terdengar tegas tapilembut. Namun ketika Alfi sampai pada nama Ratu, Tak ada acungan tangan yang merespon.
              "Ratu?" Alfi memanggil sekali lagi. Tapi yang terdengar hanya kasak-kusuk anak-anak yang meributkan sesuatu. Mata Alfi menjelajah barisan Tim nya. Benar saja. Ia tak menemukan Ratu disana. Bocah bertubuh kecil itu memang pendiam. Dan Alfi membutuhkan beberapa detik kalau Ratu memang tak ada di wilayah jambore.
              "Ada yang lihat Ratu?" tanya Alfi tetap tenang. Atau berusaha untuk tetap tenang.
              "Siap ka. Tadi saya sih, liat dia bawa-bawa ceret." Ucap Nayla. Pemimpin dalam kelompok melati. Anak itu lalu diam keliatan berpikir. "mungkin lagi ambil air di MCK, sana." Lanjut Nayla sembari menunjuk ke arah barat laut. "Nay. Itu kan udah lama tauuu! jangan-jangan ratu ilang!" Sergah Evi, disambung oleh koor terkejut ala anak SD tim melati. Alfi tetap menahan kekhawatirannya. Dengan senyum yang sedikit dipaksakan ia memerintahkan anggotanya untuk tenang. kemudian ia menitipkan regunya kepada teman sesama pembimbing, Alan.
             "Saya mau cari Ratu. Tolong kamu handle dulu melati ya. Persiapkan mereka untuk acara malam." Katanya pelan. Berusaha tenang namun sebenarnya khawatir. Sebenarnya ini pertama kalinya Alfi membimbing regu melati diluar kelas. Dan seketika Alfi merasa gagal saat tahu ada satu regunya yang hilang.
             "Iya. Saya akan gabung mereka dengan regu mawar. Ratu pasti ditemukan!" Alan mengangguk tegas. memberi dukungan. "Minta mas Dicky untuk temenin kamu cari Ratu kalau perlu." katanya lagi. Kini ganti Alfi yang mengangguk.
              Alfi galau. Kekhawatirannya bertambah karena Ratu tak juga ditemukan di area dekat-dekat jambore. Ia bersama mas Dicky
















0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar